- Goresan Hati -

Dalam hidup yang penuh perjuangan, jangan kau jatuh ketika semua beban berada tepat di pundakmu.

Selasa, 10 April 2012

Haruskah dengan Perayaan?

Dua hari lagi. Yah, tepat 2 hari lagi tanggal 11.
Saya sampai sekarang masih bertanya-tanya. Mengapa orang yang berulang tahun diminta untuk mentraktir rekannya? Bukankah, mereka seharusnya mendoakan? Orang yang berulang tahun pun, saya pikir sebaiknya lebih khusuk beribadah....
Mengapa?
Ulang tahun seharusnya menjadi hari untuk seseorang introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan satuh tahun belakang. Sudah cukupkah amal yang dikerjakan, atau bahkan dosa semakin berlipat ganda? Na’udzubillah mindzalik... Introspeksi diri yang diiringi dengan ibadah yang stabil (bila dirasa sulit untuk meningkatkan intensitasnya). Semoga kita menjadi insan yang selalu mengingat Allah, sehingga takut untuk melangkahkan kaki ke jalan maksiat. Amin.


Saya sangat tertarik dengan kalimat yang pernah saya baca di salah satu blog yang tidak mencantumkan nama adminya, seperti yang saya kutip, “sesungguhnya setiap ulang tahun itu mendekati kematian. Mengurangi umur yang telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Tidak setiap orang berbahagia dengan kematian, hanya mereka yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan yang wajar mengharapkan segera berjumpa kematian. Bagi kita yang pemahaman agamanya rendah, kita yang awam dan umum, kematian adalah tanda putus asa dan bosan hidup. Karenanya, bagi yang terlalu bergembira ria dengan datangnya ulang tahun, maka saksikanlah saat kematiannya datang. Tidak seorang pun yang boleh bersedih! Semua harus gembira! Semua harus berpesta! Makan enak dan sejenisnya. Sebablah tujuan telah pun dicapai. Janganlah rayakan ulang tahunku, sebab itu tanda kau bergembira dengan datangnya kematianku dan sebab aku masih pun takut serta sangat belum siap. Sungguh, kecuali engkau senang akan hal itu”.

Jujur saja, sampai hari ini pun saya masih sering melontarkan kata-kata “minta traktir” kepada teman yang berulang tahun, meskipun tetap terselip doa yang tulus dari saya. Dulu ketika saya masih kanak-kanak. Melihat pesta ulang tahun yang dirayakan oleh teman-teman, terbersit pikiran anak-anak dalam diri saya, “kenapa mama dan papa tidak pernah merayakan ulang tahun saya?”. Saya baru tersadar mengapa sejak kecil dibiasakan untuk tidak merayakan pesta ulang tahun. Terima kasih mama dan papa saya tercinta.
Ketika guru SMA saya berulang tahun, mendapatkan kejutan dan kue ulang tahun dari kami muridnya. Saya justru tersentuh melihat apa yang dilakukan beliau. Beliau membaca Al-Quran dengan khusuk dan mata yang berkaca-kaca, sedangkan kami duduk terpaku melihat beliau. Seusai beliau menyelesaikan bacaan ayat-ayat suci Al-Alquran beliau berkata, “Maaf anak-anak, Ibu sedang berpuasa”. Beliau pun berinisiatif untuk menyuapkan potongan-potongan kecil kue dari kami satu per satu kepada kami. Sungguh, saya tersentak mendengarnya. Justru di hari ulang tahunnya, beliau menyibukkan diri untuk beribadah. Subhanallah...

Ada alah satu doa yang pernah saya terima di pesan singkat ketika saya berulang tahun. Singkat, padat dan jelas. Membuat saya benar-benar diingatkan. Doa tersebut diambil dari salah satu ayat di dalam kitab suci Al-Quran yang berbunyi, “dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku diwafatkan, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Sampai saat ini, doa itu saya teruskan kepada teman-teman yang berulang tahun, Insyallah. Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita menghapuskan budaya perayaan ulang tahun secara perlahan. Amin J

Sabtu, 07 April 2012

Cinta Dalam Hati

"Mungkin ini memang jalan takdirku, mengagumi tanpa dicintai. Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia dalam hidupmu, dalam hidupmu...
Telah lama kupendam perasaan itu, menunggu hatimu menyambut diriku. Tak mengapa bagiku mencintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku..."


Berulang kali lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu saya putar sampai tengah malam. Bertemankan lelah mencari jurnal untuk tugas kuis teknologi pengemasan. Terlalu lelah mungkin, sampai-sampai perhatian saya lari ke blog. Sebenarnya, hati saya yang begitu lelah. Sudah terlalu sesak untuk menarik nafas satu tarikan. Entah malam kapan, saya benar-benar menangis di atas sajadah. Setelah sholat tahajud, tetesan air mata berderai menghadapMU. 
"Ya Rabb, saya tak pernah sedetik pun mengizinkan ingatan ini tertuju padanya. Namun, semakin hari hati dan pikiran ini semakin kuat menggambarkan sosok dirinya. Ya Rabb, bantu hamba keluar dari gejolak hati yang hampir merobohkan pertahanan hamba. Saya lebih memilih kesendirian hati tanpa mengenalnya, daripada saya terlunta mengaguminya dalam diam. Engkau lebih mengetahui detail hati hamba, Ya Rabb. Engkau tahu yang terbaik untuk hamba. Kuserahkan persoalan hati ini. Saya telah beristiqomah, saya selalu takut dan takut bila saya mulai menyukai dan menyayanginya. Jagakan hati hamba dari karismatik dirinya, hingga membuat saya lalai dalam beribadah. Amin".




               Semua bermula dari praktikum biologi (Semester 1). Entah kapan pastinya, saya mulai mengagumi sosok penyendiri dan tegasnya. Tapi saya tidak begitu peduli akan hal itu, sampai akhirnya saya mendapatkan mimpi tentangnya dan tentang saya. Tepat semester dua, hari apa itu saya lupa. Jelasnya, esok hari ada praktikum kimia organik. Saya satu kelompok denganya, sampai-sampai saya tidak mau menegur atau melihatnya. Entahlah, saya menjadi BENCI padanya karena bunga tidur saja! Ketika ada kuliah umum di Pasca Sarjana. Saya baru tau, ternyata bukan hanya saya yang mengagumi sosoknya. Kenapa bisa tahu? Ketika kami mengadakan game truth and dare di mess PT Semen, keempat teman saya yang lain mengakui hal itu (semester 3). Sebelumnya, saya sangat sadar sosok dirinya yang begitu diam dan tegas. Saya tak pernah terlalu menghiraukan keberadaan dirinya. Sampai-sampai, hampir tergeserkan oleh seseorang yang membuat tragedi segitiga. Tapi, begitu kuat karismanya... Hingga seseorang itu tak berhasil menggantikannya. Semester 4, seseorang itu masih saja dekat denganku. Perjalanan pulang fieldtrip pun tak lepas berkirim-kirim pesan singkat dengan dia. Tapi, saya tetap tak menemukan chemistry dengan seseorang ini. Entahlah, mengapa saya tertuju padanya yang telah mencuri perhatian saya sejak semester 1? Masuk semester 5, dua kelompok praktikum saya diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengannya. Saat inilah, saya baru menyadari bahwa benar ada dirinya dihati. Jujur saja, saya tak pernah merasakan perasaan yang menggebu-gebu. Deg-degan yang dirasakan hanya biasa, namun... Nyaman! Ketika bisa satu kelompok dengannya, entah mengapa setiap sudut bibir ini dengan refleks menarik 2 cm ke kanan dan ke kiri. Pada bulan 10, dia menyemangati saya melalui pesan singkat yang dikirimnya. Jujur, berulang kali saya baca dan senyum-senyum sendiri. Entah mengapa, kata-kata semangat itu begitu luar biasanya memompa kembali semangat yang sempat kendur. Sekarang, semester 6. Saya mengira dapat melupakannya. Namun, lagi-lagi saya dihadiahkan bunga tidur tentangnya. Masyallah... Semester ini, semester yang sangat berat untuk saya. Minggu kemarin, begitu intensnya kami berkirim-kirim pesan. Sempat-sempatnya ia menjahiliku, "di kalender saya, kok tanggal 11 bulan april tanggal merah ya? :D"... Kagetnya saya, itu tanggal kelahiran saya. Ya Allah, bagaimana pertahanan hati ini tidak goyah? 


Saya sudah berulang kali menangis akan hal ini. Menangis memohon keridhaan dariMU, Ya Rabb. Keridhaan untuk menghapus dirinya dari memori hati dan pikiran saya. Tidak pernah saya merasakan sakit menahan semua ini, yang ada hanya ketakutan. Takut bila sebenarnya saya benar-benar telah jatuh ke dalam jurang.
Siapa lagi penolong hamba selain Allah Azza wa Jalla? Pencipta segala yang terlihat ataupun tidak, yang hidup dan yang mati, yang besar dan yang kecil, yang tua dan yang muda, terukur dan tidak terukur, dan segala hal yang tak bisa saya rincikan satu per satu. Saya tidak menginginkan satu kepastian tentang diriku di matanya. Saya terus-terusan berdoa untuk menekan rasa kagum ini. Saya yakin, Allah tau yang terbaik untuk saya. Bimbing dan tuntun hati hamba untuk selalu mengingat Asma Engkau, Ya Allah. Amin, :)

Jagakan Hati Ini

Tulisan ini udah direvisi, hehehe... 
Lagi-lagi, pemuja rahasia itu memang asyik! Tanpa ada yang tahu sebenarnya bagaimana dan apa yang seseorang rasakan. hmmm, ada yang berminat jadi pemuja rahasia? Tentu saja, AKU!
                                               
                 Kamis, 11 November 2011.
                10:39

                Ketika aku mengucapkan satu kalimat penegasan, itu merubah sedikit dari sisi hidupku. Mungkin, selama ini aku menganggap itu hanyalah sebatas angin yang berlalu menyapu debu yang menebal didinding hatiku. Namun, aku salah duga. Memang benar, dari sekian kali aku berada dekat dengan dirinya dulu, hanya sedikit sekali aku merasakan getaran di hatiku. Tapi tak kupungkiri, ketika pesan singkatnya hadir di malam suntukku berteman dengan tugas, itu dapat menjadi satu penyemangat dan bahagiaku meluap-luap.
                Satu nama yang pernah membuat aku malas untuk mendengarnya. Alasan klasik memang. Mimpi! Sungguh, aku hampir-hampir tak mau lagi bertemu dengannya. Lucu. Sangat lucu. Salah apa dia sampai-sampai aku tak mau bertemu dengannya?
                Biar kuberi tahu. Bahwa pesan singkatnya pun walau hanya sepele, aku simpan untuk sesekali aku baca kembali. Pesan singkat yang sangat jarang sekali hadir membunyikan ponselku. Mengajak aku bercanda dan tertawa. Oh Tuhan, jagakan hati ini. Sulit rasanya menahan untuk tidak melihatnya bila berada dalam lokasi yang sama, untuk tidak menyapa kata “Hai” ketika berada duduk disampingnya, dan untuk tidak bekerja sama dengannya ketika berada satu team dengannya. Ya Tuhan, pencipta segala rasa... Jagakan hatiku hingga Engkau meridhai segalah hasrat yang bertengger dihati.
             Getar yang dulu begitu lemah kurasa, kini semakin hari semakin terasa bertalu-talu. Ruang penampung oksigen yang dulu berkapasitas lebih, kini terasa sesak terisi oleh suplai energi yang berlebih dari sengatan senyummu. Untuk satu nama yang kini begitu kuat dihati, pergilah menjauh segera dari sisiku. Aku tak mau dipusingkan oleh secuil rasa yang kini bermain-main liar dihati. Aku sudah cukup susah karena itu. Aku cukup kepayahan untuk menghapus jejakmu. Apa yang harus aku lakukan untuk menghapus tangisan hati ini ketika aku berusaha sekuat hati untuk melupakanmu yang tak pernah aku izinkan tahu apa yang tersembunyi dihatiku, apa yang terselip di dalam doaku, apa yang terbayang dibenakku? Sungguh, aku benar-benar ingin menghapus semua wajah yang pernah terukir diingatanku. Aku, benar-benar tak mau memikirkan dirimu walau hanya sedetik saja.
                Kau tahu bagaimana rasa dongkolnya aku ketika kau berusaha menjodoh-jodohkan aku sama temanmu? Kau tak tahu kan apa yang aku katakan dalam hati? Betapa inginnya aku membantah segala ucapanmu? Aku hanya bisa berlagak bodoh pura-pura tak tahu, dan temanmu memasang wajah penuh senyum malu-malu. Sesungguhnya bukan dia, tapi kamu!
                Saat ini, aku tak mengharapkan apa-apa dari segala rasa yang aku punya sekarang. Tak pernah aku ingin lebih dekat denganmu sebelum aku meyakinkan kenyataan bahwa benar ada kamu di hatiku. Sejauh ini, aku hanya ingin melupakanmu. Sebelum rasa ini mengakar lebih dalam dan dalam lagi. Sebelum aku terkontaminasi oleh segala racun yang kau sebar untuk mematikan sarafku. Hingga akhirnya, tak ada pilihan lain selain meminta penawar darimu. Aku tak mau!